the world flag

the world flag

Suatu hari lima orang berada di dalam sebuah penjara di wilayah antah berantah. Terkucilkan dari dunia luar yang penuh dengan berbagaimacam persoalan yang masih belum terpecahkan. Kelima orang tersebut dimasukan ke dalam penjara bukan tanpa sebab. Mereka semua adalah pemberontak yang mencoba menggulingkan pemerintahan mereka. Semacam kelompok dengan ideologi, senjata dan tak takut mati.

Penjara tempat mereka berada sangat rahasia dan hanya didiami lima orang narapidana, dan terlihat seorang sipir. Penjara itu berbeda dengan penjara biasa, karena mereka sangat setia pada ideologinya masing-masing.

Perlu diketahui bahwa pemahaman ideologi tidak hanya melekat pada diri mereka yang berada di puncak teratas rantai kepemimpinan, tokoh, atau orang yang terkenal karena perjuangannya. Kelima orang itu hanya orang biasa, tapi memiliki komitmen bahwa ideologi mereka paling benar. Mereka semua ditangkap tanpa rasa penyesalan dan takut untuk mempertahankan ideologinya.

Bahkan kebanyakan mereka yang rela mati demi ideologinya, jarang dikenal oleh banyak orang. Sebab suatu kebiasaan jika pemimpin teratas selalu hidup, mati dan dikenal sepanjang zaman. Begitulah jika seseorang mulai membaca buku tentang autobiografi. Selalu ada tokoh utama yang diceritakan, sebagian lainnya adalah peran pembantu. Kelimanya merupakan hiasan bahwa dunia dijalankan oleh mereka yang memiliki pengaruh dan kapasitas, bukan mereka yang mengorbankan semua hal tanpa perbekalan.

Beberapa orang mengatakan itu kekacauan, terorisme, dan kejahatan kemanusiaan. Lainnya, tetap mengatakan itu merupakan bagian perjuangan. Perjuangan mendapatkan pengakuan bahwa ideologi yang dianutnya harus berkuasa.

“Ini perjuangan, di mana ideologi adalah dasar pertama seseorang atau kelompok untuk melakukan tindakan lebih jauh,” ujar seorang di antara kelima orang dari mereka.

Mendengar seseorang di antara mereka berbicara, empat lainnya hanya melirik dan menganggukkan kepala. Mereka semua menganggukan kepala, meskipun tidak mengerti satu sama lain. Itu mereka lakukan karena mereka teman satu sel. (kelimanya tidak mengerti satu sama lain karena bahasa)

Setahun kemudian…

Lagosa masih memperbaiki kacamatanya sambil menjaga kelima narapidana yang tak henti-hentinya bersenandung. Setiap hari dia hanya mengamati mereka berlima agar tidak kabur atau berusaha membunuh satu sama lain. Untuk kabur dirasakan Lagosa itu adalah hal mustahil, mengingat penjara ini sangat jauh dari lingkungan manusia. Dipisahkan puluhan ribu kilometer oleh hutan belantara.

“Apa yang membuat mereka terus bertahan?” sesekali Lagosa tertarik memikirkan apa yang ada di dalam pikiran mereka. “Kenapa tidak membunuh satu sama lain, atau bunuh diri saja?”

Sama seperti Lagosa, kelima narapidana juga melihat Lagosa. “Apa yang dia pikirkan? Setahun telah berlalu tanpa pernah tahu pikiran Lagosa yang selalu berjaga terus-menerus?”

Waktu terasa cepat berlalu, akhirnya dua puluh tahun terlewati dan masih dalam keadaan yang sama. Mereka masih memikirkan satu sama lain tanpa pernah mengetahui apa yang mereka pikirkan masing-masing. Cuma bertambah tua, dan satu per satu mereka akhirnya mati dengan ideologi masing-masing., tanpa pertengakaran, keributan dan mendominasi satu sama lain.

Mereka akur tapi tidak memiliki ambisi apapun dan cenderung terlihat gila sendiri. (mereka berenam dari bangsa yang berbeda, jadi memiliki ideologi dan bahasa yang berbeda pula. Mereka tidak mengerti satu sama lain sampai akhir hayatnya).

“Siapa yang tahan jika dipenjara begitu lama tanpa asupan informasi atau hal baru untuk dipelajari. Tidak ada satu pun buku dan pelajaran sebagaimana orang normal. Namun yang paling mengerikan adalah tidak bisa berbagi cerita”.

Dua puluh tahun berlalu, tidak ada keenam orang di atas yang berhasil menceritakan kisah mereka satu sama lain… kenapa mereka harus di tempatkan di satu tempat yang sama selama itu.

Seorang peneliti (Kesalahan yang terlihat benar)

Seorang berumur lebih dari setengah abad, bernama Locus bergumam sendiri setelah membaca laporan penelitian yang dibawakan stafnya. Di institusi tempatnya bekerja, program yang tidak biasa selalu diteliti dan dibuat laporan.

Gumamnya tertuju pada proyek berjudul “dua puluh tahun oleh enam orang”. Di mana salah satu idenya bisa direalisasikan. Ide ini bukan satu-satunya yang dimiliki institusinya. Hanya sebagian ide untuk membuktikan dan membuat dunia menjadi lebih baik.

Pekerja di institusi ini berasal dari berbagai bangsa, budaya dan kebiasaan berbeda. Permasalahan penelitian ini mencakup bahasa, budaya dan kebiasaan untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Semua tahu jika bencana alam yang berasal dari Tuhan, siapapun tidak akan bisa mencegahnya. Jadi semua proyek ini ditujukan untuk bencana akibat ulah manusia yaitu perang dan kejahatan kemanusiaan.

“Jika ada cerita membuat dunia menjadi lebih baik dengan satu pemimpin, itu mungkin bukan jawabannya,” gumam Locus sambil memeriksa laporan di tangannya. Ingatan dipikirannya tentang itu selalu dikaitkan dengan konspirasi. “Lagian siapa yang ingin dipimpin dari bangsa atau orang dengan ideologi berbeda. Jadi yang menjadi pokok persoalan adalah bahasa.”

“Tapi bukannya kita di sini bisa bersatu karena adanya bahasa asing (english),” tutur staf pembawa berkas bernama Waki, seolah tidak mengerti.

“Kamu tahu jika bahasa asing yang kita pakai sekarang tidak semua orang atau umat manusia di bumi bisa mengerti?” jelas Locus. “Bahasa asing yang kita gunakan kebanyakan hanya dikuasai untuk mereka yang berpendidikan tinggi (pemimpin dunia, pelajar, ilmuwan atau tokoh yang masih enak diajak ngobrol). Atau karena alasan ideologi atau pemahaman tidak ingin menguasai bahasa yang kita gunakan sekarang. Sekalipun orang seperti kita menguasainya, tidak semua bisa berbicara seperti bahasa asli kita. Agak tersendat dan kaku, dan tidak bisa lancar.”

“Jadi?” staf berumur 30-an itu masih tidak mengerti.

“Jika ada cerita menyatukan dunia dengan satu kepemimpinan. Kenapa kita tidak menciptakan satu bahasa yang bisa dikuasai banyak bangsa. Lagian siapa yang mau kalau pemimpin berasal dari bangsa yang memiliki ideologi berbeda?” kata Locus. “Jadi kita mungkin bisa membuat satu bahasa baru yang dikumpulkan dari 7.000 bahasa di dunia, dan membentuknya jadi satu bahasa. Kau tahu kenapa harus semuanya?” tuturnya.

“Tidak,” geleng Waki.

“Sebab agar tidak ada yang merasa terkucilkan walaupun dunia memiliki banyak pemimpin berbeda. Jadi obrolan di warung kopi bisa menjadi pemecah masalah keamanan dan bencana di dunia.”

“Saya setuju,” angguk sang staf.

“Kau bisa memikirkan penelitianku jika 7 miliar orang dari berbagai latar belakang berbeda bisa mengerti satu sama lain, tanpa terkendala bahasa,” Locus sangat yakin dengan penelitiannya.

“Jadi, bahasa tanpa pembatas…” Waki terpukau dengan penjelasan Locus.

200 Tahun Kemudian Kehancuran Semakin Menjadi

Proyek dua puluh tahun oleh enam orang itu telah direalisasikan ke seluruh penjuru dunia. Setidaknya dua sampai tiga generasi telah bisa mengerti satu sama lain tanpa pembatas walaupun di pimpin oleh orang berbeda. Namun kenyataan bahwa bahasa tanpa pembatas adalah kesalahan fatal. Sebab semua orang bisa mengetahui informasi baru satu sama lain tanpa filter (institusi di dalam proses filter informasi yang masuk, tokoh atau pemimpin yang diberi amanat oleh Tuhan untuk kepintarannya, ilmuwan, pelajar dan semua orang yang disiplin untuk mencari ilmu, dan lain-lain).

Semua informasi masuk begitu saja ke dalam benak orang-orang di semua lapisan masyrakat di penjuru dunia. Tanpa sekat, tanpa disiplin ilmu semua orang merasa paling memiliki pengaruh. Karena kemudahan dalam menyampaikan suara sekilas terlihat benar, tapi sebenarnya itu salah. Hasil penyamaan bahasa malah membuat dunia tidak bertambah baik. Sebuah kata bisa memicu kehancuran massal, meskipun kita tahu kalau itu juga bisa membuat kedamaian di seluruh dunia.

Jadi konflik bertambah parah dan tidak melibatkan ratusan ribu atau jutaan orang saja. Namun akhirnya menyangkut seluruh umat manusia tanpa batas. Miliaran orang beridiologi menyuarakan suara mereka dan berebut pengaruh dengan cepat tanpa ada kendali. Alhasil pengetahuan mereka malah menghancurkan diri mereka lebih cepat dan massive.

Amanat :

Semua orang pasti menginginkan bisa memahami satu sama lain tanpa pembatas, yaitu bahasa. Namun untuk memahami bahasa asing apapun itu, perlu disiplin, kegigihan, dan ilmu yang tidak semua orang bisa mencapainya. Dan jika mereka telah mencapai bahasa apapun yang dapat mempersatukan, mereka sudah dibekali dengan filter yang disebut bahan bacaan dari orang-orang berkualitas, teruji dan sabar.

Bisa dikatakan bahwa Tuhan menciptakan banyak bahasa agar menjadi alat filter antara satu bangsa ke bangsa lainnya. Bukan untuk mengkotak-kotakkan kehidupan manusia.

Tuhan telah menciptakan filter informasi yang paling jujur di antara umat manusia, yaitu bahasa.

Aji Nugroho