Indonesia is a polyglot-populated country

Indonesia, negara berpenduduk poligot

Translate in English

Orang Indonesia, jika belajar sungguh-sungguh dalam pendidikan formal dan mempelajari agama Islam (mayoritas agama di negara Indonesia adalah Islam Sunni), mereka setidaknya akan bisa mengerti tiga bahasa, yaitu Indonesia, Inggris dan Arab. Itupun belum termasuk bahasa daerah yang berbeda-beda, seperti bahasa Jawa, Betawi, Sunda dan sebagainya. Padahal jarak antara pengguna bahasa daerah hanya sekitar 100 km, kurang lebih. Tapi terkadang seseorang belum tentu memahami satu sama lain, tanpa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa nasional. “Indonesia adalah negara berpenduduk poligot, atau orang yang mengerti setidaknya empat bahasa”. (Beberapa kurikulum baru, juga menambahkan bahasa Jerman dan Jepang).

Jadi penulis hanya mengingatkan tujuan utama dalam mempelajari bahasa asing, yaitu untuk mendapatkan atau menyebarkan informasi baru. Bukan hanya sampai tahap “percakapan sehari-hari palsu”, atau sifatnya hanya bisa menyalin dari buku percakapan sehari-hari.

“Lupakan percakapan sehari-hari palsu, niatkan mencari dan menyebarkan informasi baru menyeluruh dalam mempelajari bahasa asing. Hal itu yang seharusnya pelajar bahasa asing lakukan, karena percakapan sehari-hari juga kurang berguna di dalam negeri.”

Sebagai contoh, jika seseorang ingin belajar hanya sebatas percakapan sehari-hari, tentu saja membutuhkan lawan bicara. Dalam menemukan lawan bicara, di zaman sekarang memang tidak sesulit zaman di mana internet belum mendunia.

Semua orang bisa membayangkan jika zaman dahulu untuk mendapatkan lawan bicara bahasa asing memerlukan dana tidak sedikit, setidaknya seseorang membutuhkan uang untuk pergi ke tempat kursus atau keluar negeri. Namun di zaman sekarang, dengan mengandalkan internet murah seseorang bisa mencari teman belajar bahasa asing baik senegara atau orang asing langsung.

Modalnya hanya internet dan sosial media, ditambah google translate dan buku dasar bertema “percakapan sehari-hari” yang kadang menjadi sumber kemalasan pelajar bahasa asing dalam memahami grammar.

 Percakapan sehari-hari, tunggu sebentar!

 “Tunggu sebentar!” adalah sebuah ucapan yang aneh di dengar jika seseorang sedang melakukan percakapan. Kebanyakan orang mengaku telah berada di tingkatan bahasa asing dasar atau percakapan sehari-hari, ketika mereka bisa bercakap-cakap dengan orang asing. Padahal kebanyakan orang lakukan, hanya bertanya dengan kalimat bahasa asing yang berasal dari buku percakapan sehari-hari. Mereka hanya menyalin teks.

“Untuk bertanya mungkin buku itu bisa menjadi rujukan, tapi jika menjawab pasti seseorang memerlukan pemahaman grammar yang baik? Apakah Anda sudah bisa memahami grammar dan menguasai 3.000 kosakata bahasa percakapan asing sehari-hari?”

Penulis kadang sering dibingungkan ketika melihat seseorang sedang bertanya jawab ke orang lain, dalam bahasa Inggris. Untuk menjelaskan sedikit rinci tentang negara sendiri, terkadang tidak bisa. Akhirnya google translate jadi jawaban singkat, dan mereka mengatakan telah menguasai bahasa asing dasar. Bagaimana Anda menilainya jika seperti itu? Jadi “perkenalkan dirimu” dulu di dalam bahasa asing yang fasih dan baru mengatakan bisa berbahasa asing dasar.

Di sini penulis sadar, kebanyakan mereka yang meyakini menguasai bahasa asing dasar hanya fokus mencari kata kunci, bukan informasi. Bukan untuk mendapat informasi apapun yang bisa dijelaskan secara lisan. Misalnya, ketika Anda bertanya tentang “where are you from?” lawan bicara menjawab “i am from Jepang”. Kita hanya fokus pada kata “Jepang” lalu mulai mencarinya melalui internet. Padahal sebenarnya untuk memperoleh informasi sederhana seperti itu, cukup menggunakan keterampilan percakapan sehari-hari.

Dari sana penulis menyimpulkan, orang yang mengatakan dirinya telah bisa memahami sempurna percakapan asing dasar sehari-hari, namun masih mencari informasi seperti itu dari artikel berarti pemahamannya dasar bahasa asingnya belum sempurna (google translate). Jadi belum bisa dikatakan telah berada di tingkatan dasar atau bisa percakapan bahasa asing sehari-hari.

Penulis tentu pernah melihat berbagai macam buku asing percakapan sehari-hari yang dijual di toko-toko buku. Padahal buku semacam itu, bukan standar buku yang harus dikuasai pemula. Kadang arti dari kosakata di dalamnya pun memiliki grammar pelajar yang mahir atau pembicara asli, dan kebanyakan pembacanya tidak ingin mempelajarinya lebih dalam. Jadi buku seperti itu di tangan pemula tidak ubahnya seperti menghafal kosakata baru, tanpa ingin memahami mengapa kalimatnya bisa seperti demikian.

Bahasa bukan hafalan terima jadi, tapi lebih pemahaman sempurna tentang grammar. Baik bahasa Inggris, Jepang dan Arab. Ketiga bahasa itu membuat penulis faham jika seseorang belum bisa mendapatkan informasi penting atau menyeluruh berarti mereka belum menguasai bahasa asing. Belum lagi jika mengatakan aktif dalam berbahasa asing, level-nya masih sangat jauh.

Apa kamu telah menguasai bagian bahasa asing?

Percakapan, jika seseorang sudah bisa mendapatkan informasi baru dan cukup mendalam tentang sesuatu dengan hanya melakukan percakapan, berarti mereka sudah memahami bagian percakapan. Bukan hanya mengerti cara bertanya yang biasa dijelaskan di dalam buku percakapan sehari-hari, tapi cara menjawab dan menerangkan apa yang ditanyakan secara fasih. “Can you tell me about your country?” Pertanyaan selalu tersedia, tapi jawaban hanya ada di dalam pikiran Anda, bukan?

Mendengar, jika seseorang sudah bisa mendapatkan informasi baru hanya dengan mendengar, berarti seseorang sudah bisa berbahasa asing dengan cara mendengar. Bayangkan, jika tidak ada orang Indonesia asli yang menyadap radio Jepang berbahasa Jepang, mungkin Indonesia belum merdeka  (Sutan Syahrir yang menyadap radio asing pada 15 agustus 1945). Jadi bisa dikatakan seseorang bisa berbahasa asing, setelah bisa mengambil poin percakapan apapun yang didengarkannya. Bukan, mendengar soal ujian di tes-tes bahasa asing.

Membaca, jika seseorang sudah bisa membaca artikel penting seperti standar pendidikan atau menguasai isu berita negara lain berarti mereka telah menguasai membaca. Bukan hanya artikel standar yang selalu diulang-ulang di buku bacaan ringan, atau semacam soal ujian. Jadi jika seseorang sudah bisa membaca bahasa asing, mereka pastinya memahami permasalahan bangsa lain. Bukan hanya mengulang kalimat bahasa asing contoh di dalam soal ujian yang kadang telah diulang-ulang ribuan kali.

Jika Anda masih mendapatkan satu informasi dengan cara menggabungkannya, berati Anda belum bisa menguasai salah satunya. Misalkan, ketika anda mengobrol tentang sebuah negara, Anda masih mengatakan, “nanti saya baca dahulu tentangnya”, padahal lawan bicara Anda masih bisa menjelaskan dengan kata-kata, berarti Anda belum bisa mendengar. Jadi seolah-olah, percakapan sehari-hari hanya untuk mencari kata kunci, bukan bersifat percakapan untuk mengambil atau menyebarkan informasi menyeluruh. (only using google translate).

Tes dan levelnya?

Bahasa Inggris: di dalam bahasa Inggris, yang terkenal di Indonesia adalah the Test of English as a Foreign Language (TOEFL). TOEFL  juga memiliki tingkatan atau kesulitan yang berbeda dari setiap tes-nya. Berdasarkan tingkatan TOEFL, menurut penulis adalah TOEFL PBT, TOEFL CBT dan TOEFL IBT. Itu tes yang berbeda level, menurut penulis. Karena sifat dari ujiannya bersifat pasif dan aktif.

TOEFL Paper Based Test (PBT) listening, reading, dan structure.

TOEFL Computer Based Test (CBT) reading, structure, listening, dan writing.

TOEFL Internet Based Test (IBT) reading, writing, listening, dan speaking.

Namun untuk bahasa Inggris sendiri, juga terdapat dua jenis perbedaan lain yang penulis ketahui. Misalnya TOEFL dan International English Language Testing System (IELTS). TOEFL untuk bahasa Inggris Amerika, sedangkan IELTS untuk bahasa Inggris Britania Raya/United Kingdom. Itu cukup berbeda, namun kebanyakan tes pekerjaan di Indonesia selalu memerintahkan untuk mendapatkan skor tinggi dalam kemampuan TOEFL, bukan IELTS.

Seperti diketahui, kenyataan di lapangan tulisan berbahasa Inggris british masih banyak ditemukan. Misalnya, kata bahasa Inggris menggunakan “Centre”, bukan “Center”. Centre digunakan dalam bahasa Inggris British, tes-nya adalah IELTS. Sedangkan Center adalah bahasa Inggris Amerika, tes-nya adalah TOEFL.

“Jadi untuk pemula atau tingkatan pasif sendiri kebanyakan belum mengetahui apa bedanya TOEFL dan IELTS. Jika seseorang tidak mengerti bedanya dengan benar, bisa saja mereka menulis Inggris gabungan, atau dikenal sebagai grammar rusak bahasa Inggris.” Itu negara yang berbeda…

Bahasa Jepang: di dalam bahasa Jepang, seseorang juga mengenal tingkatan test Japanese-Language Proficiency Test – 日本語能力試験 (JLPT), yaitu N1, N2, N3, N4, dan N5. Paling sulit adalah N1, sedangkan N5 paling mudah. JLPT sendiri, tes internasional yang dibuat oleh pemerintahan Jepang untuk seluruh orang di dunia. Tentunya jika ingin bisa dikatakan mampu berbahasa Jepang, seseorang harus lulus ujian itu, sesuai tingkatannya. Seperti TOEFL dan IELTS, JLPT adalah ujian di dalam bahasa Jepang.

Untuk lulus ujian JLPT perkiraan kanji dan kosakata yang harus dihafalkan sebanyak :

N5 (kira-kira 100 Kanji dan 800 kosakata), N4 (300 Kanji dan 1,500 kosakata), N2 (1.000 Kanji dan 6.000 kosakata), N1 (2.000 Kanji dan 10,000 kosakata).

Di Universitas yang mempelajari bahasa Jepang, untuk mendapatkan gelar sarjana tidak pernah menargetkan pelajar untuk lulus di level apapun. Tapi jika Anda benar-benar belajar di tingkatan sarjana, seorang pelajar bahasa Jepang seharusnya dapat lulus di tingkatan N2. Sedangkan N1, biasanya untuk mereka yang benar-benar mahir. Kemudian N5, N4, dan N3 sudah dikatakan lumayan.

Bahasa Arab: di dalam bahasa Arab, penulis hanya bisa mengatakan jika seseorang mengakui dirinya sudah bisa bahasa arab berarti sudah menguasai ilmu nahwu dan sharaf dan tingkatannya. Tidak hanya percakapan sehari-hari yang sudah tertulis dalam buku, atau membaca artikel-artikel ringan. Namun untuk bahasa Arab, penulis hanya bisa menjelaskan singkat. Misalnya seperti seseorang harus hafal seribu grammar bahasa arab di Alfiyah, memahami perubahan kata kerja dalam sharaf dan lain-lain.

Apa kamu hanya ingin mempelajari bahasa asing dasar, dan merasa cukup?

Seseorang yang ingin belajar bahasa asing tentunya memiliki tujuan dasar untuk mendapatkan informasi baru. Itu harus menarik, disukai dan dicintai. Jika seseorang tidak menyukai mencari (pasif : membaca, mendengar, aktif : berbicara, menulis) informasi baru berarti mereka tidak berniat belajar bahasa asing.

Jadi untuk belajar bahasa asing, jangan pernah sekali-sekali merasa cukup di tingkat dasar. Bayangkan jika seseorang menemukan informasi baru yang menarik dirinya, tapi lebih banyak tidak mengerti kosakata di artikel itu. Tentu saja, informasi yang diperoleh dapat berubah dan kadang menyebabkan seseorang pelajar bahasa asing malas untuk mempertahankan hafalannya.

“Apakah Anda ingin selalu mendapatkan informasi yang sama seumur hidup di dalam bahasa asing untuk menjaga hafalan kosakata? Atau terus menaikan hafalan Anda dengan terus berteman dengan kamus?”

Ingat!

Setelah penulis mencari jawaban berapa kosakata yang harus dihafal untuk bahasa Inggris agar enak membaca artikel, dibutuhkan sekitar 10.000 kosakata (untuk tidak berpendidikan), sedangkan 20.000 kosakata (untuk yang berpendidikan). Tapi, setelah penulis mencari lagi di internet terkait jawaban pasti berapa banyak kosakata yang harus dihafal, lagi-lagi berbeda. Ada artikel yang menyebutkan, cukup 3.000 kosakata, atau bahkan orang itu telah menghafal 50.000 kosakata, namun masih belum bisa berbicara bahasa Inggris. Jadi praktikan juga apa yang Anda hafal…

Dari sana penulis menyimpulkan, hafalan kosakata untuk mengerti informasi bahasa asing sekitar 50.000 kosakata. Setelah itu, lagi-lagi, penulis menemukan artikel tentang menghafal dengan metode flashcard kosakata, sekitar 100.000 kosakata tertera di dalamnya. Itupun masih berupa “keluarga kata”, dan masih bisa dikembangkan lagi. Jadi, tidak ada batasan harus menghafal berapa banyak kosakata.

Nikmati ujiannya? Terlihat sulit, tapi mempermudahmu?

Dari sekian banyak informasi yang penulis peroleh, ternyata ujian bahasa asing seperti TOEFL, IELTS dan JLPT ada untuk mempermudah pelajar bahasa asing. Karena untuk standar lulus bahasa asing seseorang cukup menghafalkan 10.000 kosakata ditambah grammar, tentunya jika kosakata yang Anda hafal tepat keluar di ujian. Siapa yang tahu dirinya sudah mampu berbahasa asing dengan baik dan benar tanpa ujian?

“Pilihan ada di tangan Anda? Ingin terus menghafal kamus atau lulus ujiannya?”

Aji Nugroho

// Indonesia, negara berpenduduk poligot //